Sabtu, 10 November 2012

Ilmu Turunan


Pondok pesantren Darul Umam yang terletak di Ponorogo,jawa tengah ini selalu dipenuhi jama’ah santri yang ingin menuntut ilmu,khususnya Ilmu agama Islam..Pondok yang dipimpin oleh KH Umam Harari  ini selain memberi pendalaman tentang Islam juga memberikan pelajaran umum lainnya,umumnya  para santri  berasal dari daerah sekitar namun banyak juga santri yang berasal daru luar daerah seperti Ujang yang asli bandung, dan Hanif dari Jakarta  serta sumpomo dari Yogyakarta dan banyak santri-santri lain.
Hanif yang baru beberapa hari masuk pesantren masih belum terlalu banyak teman selain anak mama,Hanif juga anaknya pendiam.namun Hanif mempunyai cita-cita yang sangat mulia,dia ingin menjadi Dai kondang seantero nusantara.

Ujang dan Sumpomo adalah kawan satu kamar Hanif,sebelumnya Hanif merasa kurang akur dengan Ujang maapun Sumpomo namun kelama –kelamaan mereka bisa bersahabat baik.tidak bisa dielakan sebab mau tidak mau, suka maupun tidak suka mereka adalah kawan seperjuangan.
Sesaat setelah mengikuti pelajaran pembuka Hanif  kembali ke kamar dan  mengambil kaleng susu ditasnya. Beberapa kaleng susu yang dibawakan oleh ibu Hanif dan  beberapa makanan ringan menemani jam istirahat Hanif.dengan asyiknya Hanif memasukkan makanan dan minuman kedalam mulutnya.
Ngiekkkk suara pintu kamar terbuka,Ujang dan Sumpomo datang menghampiri hanif
“kumaha atuh,makan ga ngajak-ngajak kamu nif? gerutu Ujang yang sesegera menghampiri Hanif
“kalian mau ikut makan? Sini “ajak Hanif sambil mengayunkan tangannya
Ujang dan Sumpomo ikut makan dan minum susu yang Hanif tawarkan.mereka merasakan nikmatnya saling memberi setelah makanan yang mereka bawa saling bertukaran untuk dimakan bersama.
Setelah beberapa bulan Hanif menjadi sosok yang berbeda jauh dari pertama masuk pesantren . kini Hanif menjadi sosok yang berani dan ulet dalam berberda dengan ujang dan sumpomo yang lebih tekun di bidang seni
“kita besok ada jam seni atuh Pomo?tanya Ujang sambil memejamkan mata untuk sesegera beristirahat
“lah iyo besok kita ada seni Peran untuk mengisi acara perpisahan anak – anak kelas 3 to”jawab Sumpomo dengan tegas
Ujang mengangguk sambil tersenyum tipis.
Hanif merasa betah tinggal di pesantren Darul Umam setelah beberapa kali memberi kabar orang tua dikampung Hanif berjanji akan menjadi Dai mengikuti Jejak ayahnya
Hanif hari itu tidak mengikuti pelajaran tambahan yang diberikan pesantren,Hanif berencana ingin mengulang pelajaran dikamar,berbeda dengan Ujang dan Sumpomo yang aktif dibidang seni peran.baru beberapa menghafal ayat- ayat Hanif teringat guru ngajinya di Jakarta.walaupun asli Jakarta tetapi bapak Hanif asli solo.sehingga logat jawa sedikit melekat di diri Hanif .cerita guru ngaji Hanif yang membuat dia ingin terus menggali Islam lebih dalam.selain Hanif anak dari Pak Kyai di Jakarta namun tidak serta merta Hanif akan menjadi sosok seperti  ayahnya.namun mungkin juga Hanif akan jauh lebih hebat dari ayahnya.
“waktu itu pak RT datang ke rumah pak kyai yang tidak jauh dari tempat syukuran haji diadakan.sebelumnya pak RT sudah mengundang pak kyai untuk datang tepat waktu namun.sampai acara akan dimuali pak kyai belum juga datang.setelah mengetahui bahwa pak kyai sedang tidak enak badan dirumahnya pak TR bingung mau memcari pengganti pak kyai untuk mengisi tausiah di syukuran tersebut.sampai akhirnya pak kyai mengajukan usul supaya anaknya saja yang mengisi acara tersebut.tanpa pikir panjang pak RT pun mengiyakan tawan itu.
“fulann”teriak pak kyai memanggil fulang yang  sedang asyik main game di kamarnya
“iya pak”jawab Fulan
“ini ada pak RT,beliau mengundang bapak untuk mengisi acara syukuran Haji,tapi berhubung bapak sedang tidak enak badan,bapak minta tolong Fulan yang menggantikan Bapak mengisi tausiah.bagaimana kamu bisa nak?tanya pak kyai dengan penuh harap
Sebelum menjawab Fulan berpikir kalau misalnya saya mengiyakan permintaan bapak,saya akan malu habis-habisan karena saya belum cukup ilmu untuk memberikan tausiah,tapi apabila saya tidak mengiyakan akan lebih malu lagi saya didepan bapak dan juga pak RT ~_~
“Iya pak Fulan siap,kapan acaranya dilaksanakan?”jawab Fulan setelah beberapa saat memikirkan keputusannya itu
“Sekarang” jawab pak RT dengan senyum renyahnya
Fulan dan Pak RT bergegas menuju tempat acara.singkat cerita protocol pembawa acara memanggil Fulan untuk naik mimbar dan memberikan tausiah nya .
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” salam yang diucapkan Fulan pun terdengar lebih keras dan kurang jelas pelafalannya
Serentak tamu dan para undangan menjawab salam Fulan secara bebarengan.
“sebelum saya menjelaskan panjang lebar bapak dan ibu sudah paham atau belum ? Fulan mengawali tausiahnya dengan sebuah pertanyaan yang membuat para tamu kebingungan
Serentak tamu – tamu pun menjawab belum paham , dengan seenaknya Fulan pun membalas jawaban dari para tamu
“kalau belum paham percuma saya bertausiah disini”Fulan turun mimbar setelah mengakhiri jawabanya dengan salam.
Tamu undangan dan masyarakat merasa kecewa dengan anak pak kyai tersebut.karena merasa kecewa sehingga pak RT minta ganti rugi untuk mengisi tausiah dari pak kyai.tetapi sesampai disana ternyata pak kyai belum sembuh total akhirnya setelah pak kyai meminta maaf dan memberi saran kalau misalnya si Fulan menyanyakan pertanyaan seperti itu lagi jawab saja sudah paham nanti pasti si Fulan akan menjelaskannya.Pak RT pun mengangguk tanda paham apa yang dijelaskan pak kyai
Beberapa saat kemudian Fulan dan  Pak RT berangkat menuju acara yang sama.dan seperti biasa protocol menyeru kepada Fulan untuk segera naik mimbar.setelah memperbaiki mikropon yang ada didepannya Fulan mengucapkan salam yang tidak jauh beda seperti salam sebelumnya.dan tamu-tamupun menjawab secara kompak,setelah sebelumnya pak RT sudah memberitahu jawaban apa yang harus dijawab ketika Fulan melontarkan pertanyaan.
“sebelum saya menjelaskan panjang lebar,bapak serta ibu sudah paham atau belum?”tanya Fulan dengan nada yang tidak jauh beda seperti sebelumnya.
Bapak serta ibu serentak menjawab sudah paham,dengan harapan fulan akan menjelaskan apa yang sudah dipahami bapak dan ibu semuanya.namun apa yang terjadi setelah bapak dan ibu menjawab pertanyaan fulan.
“kalau sudah paham percuma saja saya diundang untuk bertausiah disini”jawan fulan sambil menutupnya dengan salam serta beranjak pulang.untung saja para tamu tidak serta merta marah dan memuli Fulan yang seenaknya saja langsung pergi
Pak RT yang melihat kelakuan Fulan semangkin kesal dan ingin meminta pertanggung jawaban dari pak kyai.setelah dua kali acaranya gagal dengan tausiah yang diisi Fulan .Pak RT pun datang mengunjungi pak kyai untuk meminta mengisi tausiah dalam acara yang sama pula.setelah menjelaskan kelakuan Fulan terhadap pak kyai.Pak RT pun meminta pak kyai yang mengisi tausiah tersebut,namun karena pak kyai masih belum sembuh akhirnya Fulan yang akan menggantikan tausiah itu lagi.dengan catatan yang sudah dikantongi pak RT.singkat cerita Fulan dan pak RT menuju tempat acara.
“Assamu’alaikum warohmatullahi wabarokatu”salam  yang diucapkan Fulan semakin fasih setelah beberapa kali mengucapkan salamnya di mimbar
Tamu dan para undangan pun menjawab salam dengan serempak.seperti biasa Fulan pun mengwali tausiah dengan pertanyaan yang sama.
“sebelum saya menjelaskan panjang lebar apakah bapak dan ibu sudah paham”? pertanyaan yang sudah menjadi andalan Fulan
Bapak – bapak pun menjawab sudah paham,sedangkan ibu – ibu menjawab belum paham,jawaban yang sebelumnya sudah diberitahu oleh pak RT itu sempat membuat Fulan bingung namun Fulan pun dengan sigap menjawab.
“kalau bapak – bapak sudah paham dan ibu – ibu belum paham ,silahkan ibu – ibu bertanya kepada bapak – bapak dan bapak-bapak menjelaskannya kepada ibu-ibu , sekian dari saya wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatu.turun mimbar pulang.
“Haniff” teriakan Ujang membuyarkan lamunan hanif ,sedangkan Hanif hanya bisa tersenyum mengingat-ingat apa yang baru saja dia lamunkan.
“ih kumaha atuh malah bengong .ayo buruan nanti kita telat”Ujang menyeret tangan hanif
Sesaat kemudian kedua kawan itu berangkat menuju ruang belajar,sedangkan sumpomo sudah berada disana lebih awal.mereka dan kawan lain belajar dengan khitmat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar